Menjadi Mentor

Ngomong-ngomong soal peran, saat ini saya mempersiapkan diri ber-“akting” (baca: menempatkan diri) sebagai seorang mentor bagi teman-teman mahasiswa baru yang akan memasuki kampus. Peran ini benar-benar menuntut saya untuk keluar dari zona nyaman. Beda dengan kepanitiaan-kepanitiaan sebelumnya, dimana saya menjadi “penggembira” (baca: yang disuruh-suruh), kali ini saya punya tanggung jawab penuh terhadap peran saya (kalau di kepanitiaan lain saya bisa serahin tugas kepada orang lain — walaupun nggak pernah — tapi kalau jadi mentor nggak bisa diserahin ke siapa-siapa ._. ). Daaan, yang terpenting diantara semuanya, peran ini menuntut saya untuk benar-benar tampil (kalau kepanitiaan lain, saya jadi orang di balik layar), benar-benar berbicara (public speaking ._.), dan mungkin peran-peran lain yang tidak terbayangkan sebelumnya. Benar-benar keluar dari zona nyaman. I mean, saya orang yang plegmatis begini, lalu sekarang harus begitu. Oh my.. T.T 

Menyesal? Eee, antara ya dan tidak. Teringat kata-kata senior dulu ketika masih baru jadi mahasiswa

Apa yang tidak kamu sukai, bisa jadi merupakan sesuatu yang sebenarnya berguna bagi kamu

Waktu itu, saya interview untuk bergabung dengan English Club kampus. Ketika ditanya maukah saya ikut klub debat, saya jawab tidak mau, karena saya orangnya tidak suka bicara. Well, see.. sebenarnya itu berguna yaa ._.

Oke deh, nasi sudah jadi bubur, sekalian bikin bubur yang enak :9 Calon mentor dibekali dengan teori-teori public speaking dan effective communication. Saya belum pernah mempraktekan teori-teori tersebut, jadi nantinya para mahasiswa baru tersebut akan jadi bahan praktek buat saya >:3

Yang artinya mereka akan jadi penilai performa saya juga ._.

Kalau berhasil, ini akan jadi lompatan besar bagi saya. Memikirkan hal tersebut, saya merasa tertantang. Namun menyadari kemampuan saya yang pas-pasan ini, mental saya kadang jadi down juga. Yaa, apalagi saya seorang plegmatis yang memang dari sananya mudah tertekan.

Kalau gagal, saya malah menyia-nyiakan waktu. Waktu yang tinggal sedikit..

Sulit sekali berprasangka baik kalau mental sedang down — berprasangka baik terhadap keadaan dan peran saya.

Walaupun katanya Pak Satria

Kalau kalian bicara atau tampil di depan umum, dunia nggak akan hancur, kok. Kenapa takut?

Yaah, pernah dengar “butterfly effect“, Pak? .___.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s